Nim : 155211180/MBS 6E
Sepotong Cerita Perang Dagang antara AS dengan China
Sekedar memberikan gambaran saja
sebelum penulis membahas mengenai perang dagang antara Amerika Serikat dengan
China , penulis akan membahas teori
perdagangan internasional. Perdagangan
internasional adalah sebuah aktivitas pertukaran barang, jasa, ataupun modal
yang melintasi batas negara (Aulia, 2008).Biasanya aktivitas ini disebut sebagai kegiatan ekspor, yakni
menjual dan mengirim barang atau jasa ke luar negeri, dan impor, yaitu membeli
dan menerima kiriman barang atau jasa dari luar negeri. Sesungguhnya, kegiatan
perdagangan internasional telah dimulai sejak beribu-ribu tahun yang lalu,
misalnya yang terkenal adalah perdagangan melalui ’jalur sutera’ yang menghubungkan
antara Asia dengan Eropa. Kegiatan perdagangan internasional semakin berkembang
pada saat periode mercantilism, yakni pada abad ke 16 sampai dengan abad ke 19 (Aulia, 2008).
Pada saat itu negara-negara
Eropa melakukan eksplorasi terhadap benua-benua lain di bumi dengan tujuan
mencari sumber-sumber kekayaan untuk dibawa ke negaranya sendiri, sehingga
terjadi kegiatan ekspor dan impor antara negara-negara Eropa dengan
koloni-koloninya. Konsep mercantilism menyatakan bahwa melalui perdagangan
internasional, suatu
negara dapat menumpuk persediaan emasnya jika lebih banyak
melakukan ekspor daripada impor, serta sebaliknya. Konsep ini membawa
konsekuensi pada timbulnya situasi win-lose, yakni negara yang berhasil memperbanyak
persediaan emasnya menjadi pemenang, sedangkan yang kehilangan persediaan
emasnya menjadi pihakyang kalah. Hal ini menyebabkan terjadinya eksploitasi
besar-besaran pada negara jajahan di seluruh dunia (Czinkota, 1998).
Teeori perdagangan semakin berkembang
yaitu muncul teori yang mangatakan bahwa masuk akal bagi suatu negara untuk
melakukan spesialisasi dalam memproduksi suatu barang yang dihasilkan secara
lebih efisien , bagi negara yang terbuka bagi perdangan bebas akan merangsang
pertumbuhan ekonomi , yang mana perdagangan akan menghasikan keuntungan yang
dinamis teori ini dinamakan teori keunggulan komperatif. Tori tersebut di
perbarui oleh Hecksher dan Ohlin yang berpendapat bahwa perdaganagan
internasional dijelaskan oleh perbedaan dalam faktor pendukung. Hal ini
memprediksikan bahwa negara akan melakukan
ekspor atas barang yang melimpah tersedia didalam negeri dan akan
mengimpor barang yang jarang tersedia di dalam negeri.
Teori
siklus hidup produk merupakan teori yang melengkapi dari teori Hecksher dan
Ohlin , yang mengatakan bahwa perdagangan dipenagruhi oleh dimana tempat
tersebut diperkenalkan.Didalam suatu perekonomian global yang sangat
terintegrasi ,teori siklus hidup produk kurang dapat diprediksikan daripada
biasanya.Lalu muncul suatu teori yang dinamakan teori perdagangan baru yang
mengatkan bahwa memungkinkan suatu negara untuk melakukan spesialisasi dalam
memproduksi suatu barang tertentu, mencapai skala ekonomi dan menurunkan biaya
produksi barang ,sementara disisi lainya , membeli barang yang tidak dihasilkan
oleh negara yang melakukan spesialisasi. Dengan mekanisme ini , berbagai macam produk
tersedia akan meningkat , sementara biaya rata-rata produk tersebut turun.
Teori
perdagangan baru juga menambahkan bahwa dalam suatu industri di mana skala
ekonomi menjadi penting menunjukan pangsa pasar dunia hanya akan mendukung
beberapa perusahaan saja, tetapi negara akan mengusai ekspor atas produk –
produk tertentu sebab mereka memliki perusahaan yang merupakan para penggerak
pertama di dalam industri tersebut.
Setelah
melihat teori –teori yang tersebut, sekarang mari kita lihat bagaimana kondisi
yang dialami oleh Amerika Serikat dan China terkait perang dagang yang sedang
memuncak. Pemerintahan Donald Trump berulangkali
mengecam kebijakan dagang Cina dan mengancam bakal menghukum Beijing dengan
menaikkan pajak impor menjadi 45%. Ia juga menuding Cina memanipulasi nilai
mata uangnya sendiri untuk mengebiri daya saing produsen Amerika.
Trump
keliru ketika mengklaim Beijing sengaja mempertahankan nilai tukar Yuan agar
lebih lemah ketimbang Dollar AS. Bank Sentral Cina saat ini aktif mengucurkan
uang demi menopang nilai Yuan dan menghadang arus modal ke luar negeri. Namun
juga studi terakhir menyebutkan Amerika kehilangan 2 juta lapangan kerja sejak
Cina bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia, WHO.
Presiden
terpilih AS berjanji akan mengembalikan lapangan kerja yang hilang dengan
menekan Cina. Namun Kementerian Perdagangan di Beijing memperingatkan perang
dagang "cuma akan menciptakan penderitaan di kedua negara."
Sejak
1990 Norwegia menabung surplus keuntungan dari industri minyak milik negara
untuk masa depan. Saat ini Dana Pensiun Pemerintah yang dikelola oleh bank
sentral itu tercatat sebagai yang terbesar di dunia dengan nilai aset sebesar 885
milyar Dollar AS.
Cina
pun bukan tanpa senjata. Beijing bisa mempersulit aktivitas dagang
perusahaan-perusahaan besar AS seperti Apple, General Motors dan Boeing. Selain
itu ekspor kedelai AS ke Cina pun bisa terganggu. Khususnya ekspor produk
agrikultur menjadi kepentingan petani AS yang sebagian besar memilih Trump.
Faktanya
sikap keras Washington akan memicu reaksi tak terduga dari Beijing. Dalam
Forum Ekonomi Dunia di Davos, Presiden Xi Jinping menegaskan "tidak
ada" yang akan menang dalam perang dagang. Kementerian Perdagangan Cina
juga menyatakan "siap bekerja" dengan pemerintahan Trump "demi
mencapai keuntungan terbesar buat bisnis dan konsumen di kedua negara."
Untuk
itu Beijing baru-baru ini mengisyaratkan akan membuka akses lebih luas bagi
investor luar negeri, antara lain dengan mengizinkan perusahaan asing melakukan
penawaran umum perdana atau IPO di bursa saham Cina. Sebulan silam Cina juga
mempersilahkan investor asing membentuk perusahaan sendiri, tanpa perlu
menggandeng mitra lokal.
Meski
begitu perusahaan asing di Cina hingga kini masih mengeluhkan keterbatasan
akses. Saat ini Cina berada di posisi 84, di belakang Arab Saudi dan Ukraina,
dalam Indeks Kemudahan Berbisnis versi Bank Dunia.
Pada
hari Senin (02/04) sudah terjadi penurunan harga bahan baku baja 8% di dalam
negeri Cina karena pengusaha di negara tersebut khawatir barangnya tidak
terjual akibat kenaikan tarif yang menghambat ekspor ke Amerika Serikat.
Cina
akhirnya memberlakukan tarif bea masuk hingga 25% terhadap 128 produk impor dari
AS, antara lain daging babi dan minuman anggur, sebagai pembalasan atas langkah
Presiden AS Donald Trump yang menaikkan bea atas impor baja dan aluminium awal
Maret lalu.Cukai impor itu berdampak pada berbagai barang senilai US$3miliar
(Rp41 triliun) yang berlaku mulai hari Senin (02/04).
Dampak
dari tejadinya perang dagang yang kian memuncak terhadap negara negara lain
yang memiliki kepentingan dengan negara kedua negara ataupun salah satunya
yaitu Kalau ekonomi, pasar bagi dunia atau Asia dari RRT ini mengecil, tentu
saja ekspor komoditas kita seperti batu bara, seperti minyak kelapa sawit dan
lain lain itu akan menjadi berkurang.
Kalau
barang-barang di Tiongkok sendiri sudah mulai murah, tentu saja dia akan ekspor
dengan harga yang lebih murah lagi ke negara-negara Asia Tenggara. Nah tentu
saja ini mau tidak mau akan mempengaruhi negara-negara di Asia Tenggara atau di
dunia yang membuat industri dalam negeri mereka menjadi tidak bisa lagi ber-compete (bersaing)
lagi.Namun kebijakan yang dilakukan oleh preseden Trum tersebut hanya bisa
dibilang gertak sambal atau tidak bertahan lama.
DAFTAR PUSTAKA
Czinkota, M.R., Ronkainen,
I.A., Moffett, M.H. dan Moynihan, E.O. 1998. Global
Business, 2nd Ed. Fort
Worth: Harcourt Brace & Co.
Aulia.Asdi ,2008,”Perdagangan
Internasional dan Rekonstruksi Industri TPT di Indonesia
”,Vol 4,www.scincedirect.com.
AS-Cina perang dagang,
Indonesia tetap terpengaruh - BBC News Indonesia.html. (7 Mei 2018)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar