Halaman

Minggu, 13 Mei 2018

Perang Dagang AS vs China

Nama : Kelita Purwanti
Nim    : 155211180/MBS 6E


Sepotong Cerita Perang Dagang antara AS dengan China
Sekedar memberikan gambaran saja sebelum penulis membahas mengenai perang dagang antara Amerika Serikat dengan China , penulis akan membahas teori  perdagangan internasional. Perdagangan internasional adalah sebuah aktivitas pertukaran barang, jasa, ataupun modal yang melintasi batas negara (Aulia, 2008).Biasanya aktivitas ini disebut sebagai kegiatan ekspor, yakni menjual dan mengirim barang atau jasa ke luar negeri, dan impor, yaitu membeli dan menerima kiriman barang atau jasa dari luar negeri. Sesungguhnya, kegiatan perdagangan internasional telah dimulai sejak beribu-ribu tahun yang lalu, misalnya yang terkenal adalah perdagangan melalui ’jalur sutera’ yang menghubungkan antara Asia dengan Eropa. Kegiatan perdagangan internasional semakin berkembang pada saat periode mercantilism, yakni pada abad ke 16 sampai dengan abad ke 19 (Aulia, 2008).
Pada saat itu negara-negara Eropa melakukan eksplorasi terhadap benua-benua lain di bumi dengan tujuan mencari sumber-sumber kekayaan untuk dibawa ke negaranya sendiri, sehingga terjadi kegiatan ekspor dan impor antara negara-negara Eropa dengan koloni-koloninya. Konsep mercantilism menyatakan bahwa melalui perdagangan internasional, suatu
negara dapat menumpuk persediaan emasnya jika lebih banyak melakukan ekspor daripada impor, serta sebaliknya. Konsep ini membawa konsekuensi pada timbulnya situasi win-lose, yakni negara yang berhasil memperbanyak persediaan emasnya menjadi pemenang, sedangkan yang kehilangan persediaan emasnya menjadi pihakyang kalah. Hal ini menyebabkan terjadinya eksploitasi besar-besaran pada negara jajahan di seluruh dunia (Czinkota, 1998).
            Teeori perdagangan semakin berkembang yaitu muncul teori yang mangatakan bahwa masuk akal bagi suatu negara untuk melakukan spesialisasi dalam memproduksi suatu barang yang dihasilkan secara lebih efisien , bagi negara yang terbuka bagi perdangan bebas akan merangsang pertumbuhan ekonomi , yang mana perdagangan akan menghasikan keuntungan yang dinamis teori ini dinamakan teori keunggulan komperatif. Tori tersebut di perbarui oleh Hecksher dan Ohlin yang berpendapat bahwa perdaganagan internasional dijelaskan oleh perbedaan dalam faktor pendukung. Hal ini memprediksikan bahwa negara akan melakukan  ekspor atas barang yang melimpah tersedia didalam negeri dan akan mengimpor barang yang jarang tersedia di dalam negeri.
Teori siklus hidup produk merupakan teori yang melengkapi dari teori Hecksher dan Ohlin , yang mengatakan bahwa perdagangan dipenagruhi oleh dimana tempat tersebut diperkenalkan.Didalam suatu perekonomian global yang sangat terintegrasi ,teori siklus hidup produk kurang dapat diprediksikan daripada biasanya.Lalu muncul suatu teori yang dinamakan teori perdagangan baru yang mengatkan bahwa memungkinkan suatu negara untuk melakukan spesialisasi dalam memproduksi suatu barang tertentu, mencapai skala ekonomi dan menurunkan biaya produksi barang ,sementara disisi lainya , membeli barang yang tidak dihasilkan oleh negara yang melakukan spesialisasi. Dengan mekanisme ini , berbagai macam produk tersedia akan meningkat , sementara biaya rata-rata produk tersebut turun.
Teori perdagangan baru juga menambahkan bahwa dalam suatu industri di mana skala ekonomi menjadi penting menunjukan pangsa pasar dunia hanya akan mendukung beberapa perusahaan saja, tetapi negara akan mengusai ekspor atas produk – produk tertentu sebab mereka memliki perusahaan yang merupakan para penggerak pertama di dalam industri tersebut.
Setelah melihat teori –teori yang tersebut, sekarang mari kita lihat bagaimana kondisi yang dialami oleh Amerika Serikat dan China terkait perang dagang yang sedang memuncak. Pemerintahan Donald Trump  berulangkali mengecam kebijakan dagang Cina dan mengancam bakal menghukum Beijing dengan menaikkan pajak impor menjadi 45%. Ia juga menuding Cina memanipulasi nilai mata uangnya sendiri untuk mengebiri daya saing produsen Amerika.
Trump keliru ketika mengklaim Beijing sengaja mempertahankan nilai tukar Yuan agar lebih lemah ketimbang Dollar AS. Bank Sentral Cina saat ini aktif mengucurkan uang demi menopang nilai Yuan dan menghadang arus modal ke luar negeri. Namun juga studi terakhir menyebutkan Amerika kehilangan 2 juta lapangan kerja sejak Cina bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia, WHO.
Presiden terpilih AS berjanji akan mengembalikan lapangan kerja yang hilang dengan menekan Cina. Namun Kementerian Perdagangan di Beijing memperingatkan perang dagang "cuma akan menciptakan penderitaan di kedua negara."
Sejak 1990 Norwegia menabung surplus keuntungan dari industri minyak milik negara untuk masa depan. Saat ini Dana Pensiun Pemerintah yang dikelola oleh bank sentral itu tercatat sebagai yang terbesar di dunia dengan nilai aset sebesar 885 milyar Dollar AS.
Cina pun bukan tanpa senjata. Beijing bisa mempersulit aktivitas dagang perusahaan-perusahaan besar AS seperti Apple, General Motors dan Boeing. Selain itu ekspor kedelai AS ke Cina pun bisa terganggu. Khususnya ekspor produk agrikultur menjadi kepentingan petani AS yang sebagian besar memilih Trump.
Faktanya sikap keras Washington akan memicu reaksi tak terduga dari Beijing. Dalam Forum Ekonomi Dunia di Davos, Presiden Xi Jinping menegaskan "tidak ada" yang akan menang dalam perang dagang. Kementerian Perdagangan Cina juga menyatakan "siap bekerja" dengan pemerintahan Trump "demi mencapai keuntungan terbesar buat bisnis dan konsumen di kedua negara."
Untuk itu Beijing baru-baru ini mengisyaratkan akan membuka akses lebih luas bagi investor luar negeri, antara lain dengan mengizinkan perusahaan asing melakukan penawaran umum perdana atau IPO di bursa saham Cina. Sebulan silam Cina juga mempersilahkan investor asing membentuk perusahaan sendiri, tanpa perlu menggandeng mitra lokal.
Meski begitu perusahaan asing di Cina hingga kini masih mengeluhkan keterbatasan akses. Saat ini Cina berada di posisi 84, di belakang Arab Saudi dan Ukraina, dalam Indeks Kemudahan Berbisnis versi Bank Dunia.
Pada hari Senin (02/04) sudah terjadi penurunan harga bahan baku baja 8% di dalam negeri Cina karena pengusaha di negara tersebut khawatir barangnya tidak terjual akibat kenaikan tarif yang menghambat ekspor ke Amerika Serikat.
Cina akhirnya memberlakukan tarif bea masuk hingga 25% terhadap 128 produk impor dari AS, antara lain daging babi dan minuman anggur, sebagai pembalasan atas langkah Presiden AS Donald Trump yang menaikkan bea atas impor baja dan aluminium awal Maret lalu.Cukai impor itu berdampak pada berbagai barang senilai US$3miliar (Rp41 triliun) yang berlaku mulai hari Senin (02/04).
Dampak dari tejadinya perang dagang yang kian memuncak terhadap negara negara lain yang memiliki kepentingan dengan negara kedua negara ataupun salah satunya yaitu Kalau ekonomi, pasar bagi dunia atau Asia dari RRT ini mengecil, tentu saja ekspor komoditas kita seperti batu bara, seperti minyak kelapa sawit dan lain lain itu akan menjadi berkurang.
Kalau barang-barang di Tiongkok sendiri sudah mulai murah, tentu saja dia akan ekspor dengan harga yang lebih murah lagi ke negara-negara Asia Tenggara. Nah tentu saja ini mau tidak mau akan mempengaruhi negara-negara di Asia Tenggara atau di dunia yang membuat industri dalam negeri mereka menjadi tidak bisa lagi ber-compete (bersaing) lagi.Namun kebijakan yang dilakukan oleh preseden Trum tersebut hanya bisa dibilang gertak sambal atau tidak bertahan lama.
DAFTAR PUSTAKA
Czinkota, M.R., Ronkainen, I.A., Moffett, M.H. dan Moynihan, E.O. 1998. Global
Business, 2nd Ed. Fort Worth: Harcourt Brace & Co.
Aulia.Asdi ,2008,”Perdagangan Internasional dan Rekonstruksi Industri TPT di  Indonesia   ”,Vol 4,www.scincedirect.com.
AS-Cina perang dagang, Indonesia tetap terpengaruh - BBC News Indonesia.html. (7 Mei 2018)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar